WartaSeni, Bandar Lampung — Di tengah derasnya arus perubahan zaman, upaya menjaga tradisi tidak selalu harus dilakukan dengan cara-cara lama. Tradisi dapat hidup kembali melalui tafsir baru, menemukan bentuk yang lebih dekat dengan generasi masa kini tanpa kehilangan akar budayanya. Semangat itulah yang terasa dalam pertunjukan “Selusur Sirat” yang digelar Yayasan Murni Budaya Lampung bersama grup musik Sako Serikat di Taman Budaya Lampung, Jumat (6/6/2026).
Malam itu, panggung Taman Budaya tidak sekadar menjadi ruang pertunjukan musik. Ia menjelma menjadi ruang perjumpaan antara masa lalu dan masa kini. Nada-nada tradisional Lampung berpadu dengan eksplorasi musikal kontemporer, sementara tata visual yang modern memperkaya pengalaman penonton dalam menyelami narasi budaya yang disajikan.
Melalui konsep pertunjukan yang dirancang secara artistik, Selusur Sirat mengajak publik menelusuri kembali jejak-jejak identitas budaya Lampung. Tradisi tidak diposisikan sebagai artefak yang diam di masa lalu, melainkan sebagai sumber inspirasi yang terus bergerak, berkembang, dan berdialog dengan kehidupan masyarakat hari ini.
Kolaborasi antara Yayasan Murni Budaya Lampung dan Taman Budaya Lampung tersebut menghadirkan sebuah ruang apresiasi yang mempertemukan berbagai generasi pelaku seni. Pertunjukan menjadi medium untuk menunjukkan bahwa kebudayaan tetap memiliki relevansi di tengah masyarakat modern, selama ia mampu terus menemukan cara baru untuk berkomunikasi dengan zamannya.
Direktur pertunjukan, Arief Rahman, menilai kegiatan semacam ini penting untuk memperkuat semangat kolektif dalam membangun ekosistem seni budaya yang sehat dan berkelanjutan.
Menurutnya, keberlangsungan kebudayaan tidak hanya bergantung pada para seniman, tetapi juga pada dukungan masyarakat yang memberi ruang bagi karya-karya budaya untuk tumbuh dan diapresiasi.
Pertunjukan dibuka oleh grup Lemawong yang menampilkan karya-karya dari empat generasi muda. Penampilan mereka menjadi penanda bahwa proses regenerasi seni budaya di Lampung terus berlangsung. Di balik panggung-panggung kebudayaan yang hadir hari ini, tumbuh generasi baru yang mulai mengambil peran dalam merawat dan mengembangkan warisan budaya daerah.
Penasehat Yayasan Murni Budaya Lampung, Diantori Haidar Halim, menyebut ruang-ruang pertunjukan seperti Selusur Sirat memiliki arti penting bagi kehidupan seni budaya. Baginya, panggung bukan hanya tempat mempertontonkan karya, tetapi juga ruang dialog yang mempertemukan gagasan seniman dengan masyarakat.
“Seniman membutuhkan ruang untuk berkarya dan bertemu dengan publik. Dari ruang seperti inilah lahir dialog kebudayaan yang sehat sekaligus memperkaya kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Selama beberapa tahun terakhir, Yayasan Murni Budaya Lampung dikenal aktif menghadirkan berbagai program yang berupaya mengangkat nilai-nilai budaya Lampung melalui pendekatan kreatif. Upaya tersebut tidak hanya bertujuan menjaga tradisi, tetapi juga membuka kemungkinan lahirnya kolaborasi-kolaborasi baru yang mampu memperluas jangkauan seni budaya di Lampung.
Malam Selusur Sirat juga dihadiri sejumlah tokoh seni dan budaya Lampung, di antaranya Isbedy Stiawan ZS, Ari Pahala Hutabarat, Iin Mumainah, perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Lampung, serta Kepala Taman Budaya Lampung. Kehadiran mereka menjadi penanda bahwa kerja-kerja kebudayaan tetap membutuhkan pertemuan, percakapan, dan dukungan lintas generasi.
Di penghujung acara, sebuah pesan kembali mengemuka: kebudayaan tidak dapat dirawat oleh satu pihak saja. Ia membutuhkan kolaborasi antara seniman, komunitas, lembaga kebudayaan, pemerintah, dan masyarakat luas.
Karena pada akhirnya, tradisi akan tetap hidup bukan hanya karena diwariskan, melainkan karena terus dihidupkan. Dan melalui Selusur Sirat, Lampung kembali menunjukkan bahwa warisan budaya dapat menemukan jalannya sendiri untuk tetap berbicara kepada zaman.
