“Ruang Dalam Garis”: Ketika Para Perupa Lampung Menjawab Keterbatasan dengan Kebersamaan

Di tengah situasi efisiensi anggaran yang membuat banyak ruang kebudayaan bergerak lebih hati-hati, para perupa di Lampung justru memilih tetap menyalakan api kreativitas. Mereka berkumpul, berbagi proses, dan menghadirkan karya melalui pameran drawing bertajuk “Ruang Dalam Garis” yang dibuka di Gedung Dewan Kesenian Lampung, Rabu (20/5/2026).

Pameran ini menjadi bagian dari peringatan Bulan Menggambar Nasional, sebuah gerakan kolektif seni rupa yang setiap tahun mempertemukan komunitas-komunitas perupa dari berbagai daerah di Indonesia. Di Lampung, momentum tersebut terasa bukan sekadar sebagai agenda pameran, melainkan ruang perjumpaan antar seniman yang sama-sama percaya bahwa garis dapat menjadi bahasa paling sederhana sekaligus paling jujur dalam seni rupa.

Sebanyak 45 perupa dari berbagai daerah di Lampung turut ambil bagian, bersama seorang seniman tamu asal Balikpapan, Kalimantan Timur, Surya Dharma. Karya-karya yang dipresentasikan lahir dari rangkaian kegiatan Art Camp, dengan eksplorasi drawing sebagai medium utama. Dari garis-garis tipis yang nyaris sunyi hingga sapuan tegas yang membentuk ruang dan emosi, setiap karya memperlihatkan bagaimana drawing tidak lagi dipandang sebagai sketsa awal, melainkan sebagai karya utuh yang memiliki kekuatan visual sendiri.

Pameran dibuka oleh Ketua Umum Dewan Kesenian Lampung, Prof. Dr. Satria Bangsawan, didampingi Ketua Umum Akademi Lampung Anshori Djausal, serta perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Lampung. Kehadiran mereka menjadi penanda bahwa seni rupa tetap memiliki ruang penting dalam denyut kebudayaan Lampung hari ini.

Kurator pameran menjelaskan bahwa tema “Ruang Dalam Garis” lahir dari pemahaman sederhana: garis bukan sekadar unsur dasar menggambar, tetapi medium yang mampu membangun ruang, ritme, dan hubungan antar unsur visual. Dalam drawing, ruang tidak selalu hadir melalui perspektif yang rumit, tetapi tumbuh dari pertemuan garis-garis yang bergerak secara intuitif dan bertahap.

Karena itu, pameran ini tidak hanya menampilkan hasil akhir, tetapi juga menekankan pentingnya proses kreatif. Para peserta menjalani berbagai latihan eksploratif—mulai dari tekanan tangan, ketebalan garis, arah gerak, hingga ritme visual—untuk memahami bagaimana sebuah garis mampu membentuk karakter dan kedalaman karya.

Bagi Satria Bangsawan, gerakan seperti ini menunjukkan bahwa seni rupa memiliki daya hidup sosial yang kuat. Ia melihat pameran tersebut sebagai bentuk energi kolektif yang terus bergerak meski berada di tengah keterbatasan.

“Gerakan kolektif seperti ini membuktikan bahwa seni rupa tetap mampu menyatukan banyak pihak. Presentasi karya drawing ini menjadi ruang penting bagi para perupa untuk terus tumbuh dan saling menguatkan,” ujarnya.

Sementara itu, Anshori Djausal melihat semangat “rewangan” atau gotong royong yang muncul dalam kegiatan ini sebagai sesuatu yang penting bagi ekosistem seni Lampung. Ketika banyak sektor mengalami penyesuaian anggaran, para seniman justru memperlihatkan bahwa kreativitas bisa tetap berjalan lewat solidaritas dan kebersamaan.

“Para perupa tetap bergerak dengan semangat urunan. Itu menunjukkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkarya,” katanya.

Bulan Menggambar Nasional sendiri diperingati setiap Mei oleh ratusan komunitas seni rupa di Indonesia yang terbagi dalam sembilan zona wilayah. Tahun ini, sekitar 300 komunitas ikut terlibat dalam rangkaian kegiatan nasional tersebut. Puncak perayaan berlangsung di Galeri Katamsi ISI Yogyakarta pada 18 Mei 2026 dan dibuka langsung oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia.

Dalam agenda nasional itu, sembilan perupa Lampung turut hadir membawa semangat dan wajah seni rupa daerah. Kehadiran mereka menjadi penanda bahwa praktik seni rupa di Lampung terus berkembang dan memiliki percakapan yang semakin luas dengan komunitas seni di tingkat nasional.

Melalui “Ruang Dalam Garis”, para perupa Lampung seolah ingin mengatakan bahwa seni tidak selalu lahir dari kemewahan fasilitas. Kadang, ia tumbuh justru dari keterbatasan—dari ruang kecil yang diisi kebersamaan, dari garis-garis sederhana yang perlahan membentuk harapan.