“Per-Empu-An”, Ruang Perjumpaan Perempuan dan Seni di Taman Budaya Lampung

Bandar Lampung – Perempuan hadir dalam banyak wajah: sebagai ibu, pekerja, seniman, penggerak komunitas, sekaligus penjaga nilai-nilai kehidupan. Keragaman pengalaman itulah yang menjadi denyut utama dalam pameran seni rupa bertajuk “Per-Empu-An” yang resmi dibuka di Taman Budaya Lampung, Kamis (4/6/2026).

Pameran yang berlangsung hingga 8 Juni 2026 ini menghadirkan sekitar 50 perupa dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa hingga seniman profesional. Beragam karya fotografi, lukisan, dan instalasi memenuhi ruang pamer, menawarkan cara pandang yang beragam tentang perempuan dan relasinya dengan kehidupan sosial, budaya, serta dunia seni.

Pembukaan pameran dilakukan oleh Dr. Ir. H. Firmansyah Y. Alfian, MBA., M.Sc, Sekretaris Yayasan Dharma Jaya sekaligus mantan Rektor Darmajaya. Kehadirannya menandai dimulainya sebuah perhelatan seni yang tidak hanya menampilkan karya visual, tetapi juga mengajak publik merenungkan kembali posisi perempuan dalam kehidupan sehari-hari.

Tema “Per-Empu-An” dipilih bukan tanpa alasan. Judul tersebut menjadi ruang refleksi untuk membaca kembali makna perempuan dari berbagai sudut pengalaman. Di dalamnya terdapat kisah-kisah tentang peran domestik, perjuangan profesional, pencarian identitas, hingga perjalanan spiritual yang diterjemahkan melalui bahasa seni rupa.

Sebagian besar karya yang dipamerkan lahir dari tangan perupa perempuan. Mereka menghadirkan pengalaman personal yang selama ini hidup dalam keseharian: dinamika menjadi ibu rumah tangga, tantangan di dunia kerja, pergulatan batin, hingga refleksi mengenai kesetaraan dan ruang perempuan dalam masyarakat. Pengalaman-pengalaman tersebut kemudian diolah menjadi karya visual yang kaya simbol, narasi, dan tafsir.

Di sejumlah karya, perempuan tampil sebagai sosok yang kuat dan tangguh menghadapi perubahan zaman. Pada karya lainnya, perempuan hadir sebagai ruang kontemplasi yang menyimpan ingatan, luka, harapan, serta daya hidup yang terus bertumbuh. Keragaman sudut pandang itu menjadikan pameran ini tidak berhenti pada representasi fisik perempuan semata, tetapi juga menyentuh dimensi sosial dan kemanusiaan yang lebih luas.

Lebih dari sekadar pameran tahunan, “Per-Empu-An” menjadi ruang dialog antara seniman dan masyarakat. Setiap karya mengundang pengunjung untuk melihat, merasakan, sekaligus memaknai ulang berbagai pengalaman perempuan yang kerap hadir di sekitar kita, namun sering luput dari perhatian.

Pameran yang diselenggarakan oleh Komunitas Biroe bersama sejumlah komunitas seni pendukung ini terbuka untuk umum selama lima hari. Kehadirannya memperkaya dinamika seni rupa Lampung sekaligus mempertegas bahwa seni dapat menjadi medium penting untuk menyuarakan pengalaman, gagasan, dan perspektif perempuan dalam kehidupan kontemporer.

Melalui “Per-Empu-An”, seni rupa kembali menunjukkan fungsinya sebagai ruang perjumpaan—tempat pengalaman pribadi bertemu dengan kesadaran kolektif, dan tempat suara-suara yang sering terpinggirkan menemukan ruang untuk didengar.