Hari Film Nasional bukan sekadar penanda sejarah lahirnya film Indonesia, tetapi juga momentum untuk menengok denyut perfilman di daerah. Di Lampung, peringatan 30 Maret 2016 dirayakan dengan cara sederhana namun bermakna: membuka ruang temu dan percakapan antar pelaku film.
Melalui kegiatan bertajuk “Ngobrol Bareng Soal Film Lampung”, Komite Film Dewan Kesenian Lampung (DKL) mengajak sineas, pemerhati, dan publik untuk duduk bersama, berbagi kegelisahan sekaligus harapan tentang masa depan perfilman lokal. Acara ini digelar di pelataran Sekretariat DKL, PKOR Way Halim, Bandar Lampung, pada Rabu malam (30/3).
Ketua Komite Film DKL, Firdaus Rusmil, memaknai Hari Film Nasional sebagai pengingat pentingnya keberlanjutan ekosistem film, tidak hanya di pusat, tetapi juga di daerah. Tahun 2016, Hari Film Nasional mengusung tema “Film Kita”, yang menurutnya memberi penekanan pada keterlibatan sineas muda—mereka yang terus bergerak melalui film pendek, film kebudayaan, hingga partisipasi dalam berbagai festival.
“Film Indonesia tumbuh dari banyak ruang kecil. Dari komunitas, diskusi, dan keberanian untuk terus berkarya,” ujar Firdaus, Selasa (29/3).
Di Lampung, ruang-ruang kecil itu dihadirkan lewat pertemuan informal yang dirancang tanpa sekat. Budi Meong, anggota Komite Film DKL sekaligus penggagas acara, menjelaskan bahwa kegiatan ini sengaja dikemas sebagai silaturahmi terbuka. Sineas, seniman, mahasiswa, pelajar, hingga masyarakat umum diundang untuk terlibat dalam diskusi santai mengenai film Lampung.
Tak hanya berbincang, acara ini juga menayangkan sejumlah film pendek karya sineas Lampung—sebuah upaya sederhana untuk saling mengenal karya dan memperluas apresiasi.
Bagi Komite Film DKL, “Ngobrol Bareng Soal Film Lampung” bukan sekadar perayaan simbolik. Diskusi yang terbangun diharapkan melahirkan gagasan, konsep, hingga langkah konkret yang dapat mendorong perkembangan perfilman Lampung ke depan.
Dalam suasana akrab dan egaliter, Hari Film Nasional di Lampung dirayakan sebagai pertemuan ide dan semangat: bahwa film, pada akhirnya, adalah kerja bersama—tentang cerita, ruang hidup, dan keberanian untuk terus merekam zaman.
