Pelabuhan, Ingatan, dan Seni: H(ART)BOUR Night Merayakan Ruang Singgah sebagai Destinasi Budaya

Pelabuhan kerap dipahami sebatas ruang perlintasan—tempat orang datang hanya untuk pergi. Namun pada sebuah malam di Bakauheni, persepsi itu perlahan diurai. H(ART)BOUR Night, puncak dari rangkaian H(ART)BOUR Festival, menghadirkan pelabuhan sebagai ruang pengalaman: tempat seni, ingatan, dan perjumpaan saling bersilangan.

Bertempat di Terminal Eksekutif Anjungan Agung Bakauheni, Lampung, perhelatan ini menutup rangkaian festival seni yang sejak Desember sebelumnya telah menghidupkan ruang-ruang publik di Pelabuhan Merak dan Bakauheni. Di malam puncak itu, seni rupa, sinema, musik, hingga kuliner berpadu, menjadikan pelabuhan bukan lagi sekadar simpul transportasi, melainkan destinasi kultural.

Festival ini digagas oleh PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) dengan satu gagasan utama: menghadirkan pengalaman baru bagi para penumpang maupun pengunjung. Melalui seni, pelabuhan dibaca ulang—bukan hanya sebagai infrastruktur, tetapi sebagai ruang yang menyimpan dan menciptakan kenangan.

Tema “Memory Harbour” menjadi landasan konseptual festival. Gagasan ini berangkat dari ingatan-ingatan personal para penumpang kapal: tentang perpisahan, kepulangan, penantian, dan harapan. Ingatan tersebut kemudian diterjemahkan para seniman ke dalam karya dan pengalaman artistik yang dapat dirasakan langsung oleh publik.

Sejak Desember, pameran seni rupa dan visual telah lebih dulu menyapa pengunjung di Terminal Eksekutif Sosoro Merak dan Anjungan Agung Bakauheni. Karya-karya yang dipamerkan tidak berdiri sebagai objek semata, melainkan sebagai medium refleksi—mengajak pengunjung memandang pelabuhan dalam lintasan waktu: masa lalu, masa kini, dan kemungkinan masa depan.

Sejumlah seniman lintas disiplin terlibat dalam pameran ini. Olopolo menghadirkan makhluk-makhluk purba dalam karyanya, menghubungkan perjalanan manusia dengan sejarah alam yang jauh lebih tua. Lala Bohang menawarkan ruang hening lewat “Napping Room”, mengajak pengunjung berhenti sejenak di tengah riuh mobilitas. Ruth Marbun menyoal relasi dan ketahanan manusia melalui figur-figur yang terdekontruksi.

Kelompok seni Serrum memaknai pelabuhan sebagai “Gerbang Peradaban”, ruang berbagi yang terus bergerak dan berubah. SLINAT (Silly in Art) mengolah arsip visual dan ingatan kolektif lewat “Mirror Memory”, sementara WD (Wild Drawing) membawa energi seni jalanan yang lintas batas. Wulang Sunu membongkar ingatan melalui ilustrasi dan narasi visual, Yosia Raduck bermain dengan imajinasi lewat ilustrasi kalender ASDP, dan Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, berkolaborasi dengan Olopolo, menafsir ulang nilai Piil Pesenggiri dalam medium campuran.

Menuju malam puncak, pengalaman artistik diperluas. Sinema H(ART)BOUR memutar film-film pendek pilihan dan film Kulari ke Pantai, menghadirkan laut sebagai latar cerita dan emosi. Pemutaran ini berlangsung di ruang sinema terbuka dengan desain rooftop yang dirancang khusus, menjadikan menonton film sebagai pengalaman ruang yang intim sekaligus terbuka.

Di sisi lain, musik menjadi medium perayaan. Oomleo Berkaraoke mengajak pengunjung bernyanyi bersama dalam suasana cair dan egaliter—hiburan sederhana yang menekankan kebersamaan. Dari Lampung, MRNMRS tampil dengan karakter musikal yang unik, memadukan vokal dan instrumen minimalis, sekaligus memperlihatkan denyut kreatif kota pelabuhan.

Pengalaman malam itu dilengkapi dengan sajian Whaton House, proyek kuliner kolektif yang tidak sekadar menyajikan makanan, tetapi juga menghadirkan ruang percakapan. Makan bersama menjadi bagian dari ritus sosial, selaras dengan semangat festival yang mengedepankan perjumpaan.

Melalui H(ART)BOUR Festival, pelabuhan tidak lagi diposisikan sebagai ruang antara. Ia menjelma menjadi ruang kemungkinan—tempat seni membuka cara pandang baru, tempat ingatan lama dirawat, dan kenangan baru diciptakan. Di Bakauheni, seni membuktikan bahwa ruang singgah pun bisa menjadi ruang tinggal, setidaknya dalam ingatan.