Di tengah situasi yang lama membatasi perjumpaan, Gedung Dewan Kesenian Lampung di kawasan PKOR Way Halim kembali menemukan denyutnya. Sejak 20 hingga 30 Oktober 2021, ruang pameran itu menjadi tempat berkumpul, berbagi, sekaligus merayakan keberlangsungan seni rupa Lampung melalui pameran bertajuk “Suka Suka Seru Silaturahmi Seniman”—atau disingkat 5S.
Puluhan seniman dari berbagai kabupaten dan kota di Lampung hadir membawa karya terbaik mereka. Lukisan, ukiran kayu, hingga karya rupa terapan dan furnitur memenuhi ruang pamer, menciptakan suasana yang hangat sekaligus reflektif. Bagi banyak perupa, 5S bukan hanya pameran, melainkan penanda kembalinya ruang temu yang lama tertunda akibat pandemi.
Ketua pelaksana pameran, Ch. Sapto Wibowo, menyebutkan sekitar 50 perupa terlibat dalam pameran ini. Seluruh karya yang dipajang telah melalui proses kurasi, meski tanpa mengikat diri pada satu tema tunggal. Justru dari keragaman itulah, wajah seni rupa Lampung tampak apa adanya—jujur, personal, dan terus bergerak.
“Yang ingin kami tunjukkan adalah semangat berkarya itu sendiri. Dalam kondisi sesulit apa pun, para perupa Lampung tetap bekerja, tetap merespons zaman,” ujar Sapto.
5S menjadi semacam ruang rindu: rindu berjumpa, rindu berdialog langsung dengan karya, dan rindu mendapat tatapan serta tafsir dari penikmat seni. Masyarakat pun diajak untuk hadir, melihat dari dekat, dan memberi apresiasi—baik dengan berdiskusi, mengikuti agenda pendukung seperti melukis bersama, baca puisi, hingga menyanyi, maupun dengan membawa pulang karya yang berbicara paling dekat.
Salah satu peserta pameran, Anshori Djausal, budayawan Lampung yang untuk pertama kalinya terlibat dalam pameran seni rupa, memaknai kehadirannya sebagai proses belajar. Ia mengaku baru menapaki dunia lukis, namun justru menemukan ruang refleksi dari setiap kanvas yang ia kerjakan.
Salah satu karyanya mengangkat tema kebakaran hutan, sebuah fenomena yang terus berulang di Indonesia. Melalui lukisan itu, Anshori mengajak penonton menatap lebih dekat tragedi ekologis yang selama ini kerap dilihat dari kejauhan. “Ini tentang kemusnahan habitat, tentang ketakutan yang membuat kita memilih diam,” ujarnya.
Selain lukisan, pengunjung juga disuguhi beragam bentuk ekspresi seni rupa lain—ukiran kayu hingga furnitur artistik—yang menunjukkan luasnya medan kerja para perupa Lampung. Pameran ini juga membuka ruang ekonomi bagi seniman; karya-karya yang dipajang dapat diapresiasi lebih jauh dengan cara dibeli melalui panitia di lokasi.
Pameran 5S akhirnya bukan sekadar agenda seni, melainkan pernyataan sikap: bahwa seni rupa Lampung tetap hidup, bergerak, dan mencari cara untuk bertahan—bahkan ketika dunia sempat berhenti. Di ruang pamer ini, silaturahmi tak hanya terjadi antar-seniman, tetapi juga antara karya, ruang, dan publiknya.
