
PKD akan berlangsung selama sepekan, 24 September hingga 1 Oktober 2022, berpusat di Gedung Kesenian Lampung dan kawasan sekitarnya. Lebih dari sekadar agenda seremonial, pekan kebudayaan ini diproyeksikan menjadi ruang temu tahunan—tempat seniman, masyarakat, dan tradisi saling menyapa.
Mengusung tema “Bangkit Bersama, Cerlangkan Budaya, Menuju Lampung Berjaya”, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Sulpakar, melihat PKD sebagai momentum penting pascapandemi. Menurutnya, kebudayaan memiliki daya hidup yang kuat untuk memulihkan semangat kolektif masyarakat.
“Setelah sekitar dua tahun disandera pandemi, kami berharap PKD ini bisa menjadi pemantik kreativitas dan semangat berkesenian para seniman Lampung,” ujarnya.
Selama sepekan, publik akan disuguhi beragam ekspresi seni dan budaya rakyat. Mulai dari tari dan musik tradisional, pemutaran film daerah, pameran seni rupa, hingga kegiatan edukatif seperti belajar bahasa Lampung dan lokakarya seni. Ruang-ruang pamer dan pertunjukan dirancang terbuka, memungkinkan masyarakat menikmati kebudayaan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan sekadar tontonan sesaat.
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Lampung, Heni Astuti, menambahkan bahwa PKD juga dirancang sebagai perayaan yang inklusif. Selain seni pertunjukan, pengunjung dapat menikmati bazar buku, lomba-lomba seni, serta sajian kuliner lokal yang melibatkan pelaku usaha kecil dan menengah.
“Kami ingin penonton bisa menikmati pertunjukan seni sekaligus wisata kuliner. Karena kebudayaan juga hidup dari ekosistem ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Di sisi lain, Dewan Kesenian Lampung menekankan pentingnya keterlibatan seniman dari seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Lampung. Ketua Umum DKL, Prof. Satria Bangsawan, menilai PKD sebagai ruang strategis untuk memperlihatkan keragaman ekspresi budaya Lampung yang selama ini tumbuh di berbagai daerah.
“Dengan tampilnya seniman dan budayawan dari kabupaten dan kota, masyarakat bisa melihat dan menikmati kekayaan budaya Lampung secara utuh. Inilah pesta seni daerah,” kata Satria.
Bagi DKL, PKD juga menjadi wujud konkret peran lembaga sebagai katalisator dan fasilitator bagi para seniman. Bukan hanya menampilkan karya, tetapi membuka ruang dialog, perjumpaan, dan regenerasi.
Harapan serupa disampaikan Ketua Akademi Lampung, Anshori Djausal. Ia melihat Pekan Kebudayaan Daerah sebagai bagian dari upaya memajukan kebudayaan Lampung secara partisipatif—memberi kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat untuk terlibat, bukan sekadar menjadi penonton.
“PKD adalah ajang pesta kesenian Lampung, sekaligus bagian dari cita-cita Lampung Berjaya,” ujarnya.
Dengan semangat kebersamaan, Pekan Kebudayaan Daerah diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan, melainkan tumbuh menjadi ruang kebudayaan yang hidup—tempat seni Lampung terus dirawat, dirayakan, dan diwariskan dari generasi ke generasi.
