Bandar Lampung — Pada satu malam di penghujung Desember 2013, sastra Lampung seakan berhenti sejenak untuk bercermin. Silaturahmi dan Panggung Sastrawan Lampung yang digelar Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung bukan sekadar agenda baca karya, melainkan pertemuan lintas zaman: sebuah ruang di mana empat generasi sastrawan Lampung duduk dalam satu garis sejarah.
Generasi 1980-an, 1990-an, 2000-an, hingga 2010-an hadir berdampingan—membawa suara, ingatan, dan cara pandang masing-masing. Di ruang itu, sastra Lampung tidak tampil sebagai monolog satu angkatan, melainkan dialog panjang yang terus bergerak.
Dari generasi 1980-an, tampil nama-nama yang telah lama menjadi penanda arah sastra Lampung: Asaroeddin Malik Zulqornain, Isbedy Stiawan ZS, dan Syaiful Irba Tanpaka. Mereka adalah generasi yang menanam fondasi, ketika sastra masih digerakkan oleh idealisme, perlawanan sunyi, dan kesetiaan pada kata.
Namun, sejarah sastra Lampung sejatinya tidak dimulai dari mereka. Jauh sebelum itu, ada Motinggo Busye—sastrawan Lampung yang namanya melampaui batas daerah dan mengukir jejak nasional. Lahir di Kupangkota, Bandar Lampung, Motinggo adalah penulis, sutradara teater, sekaligus dramawan penting. Karyanya Malam Jahanam (1958) menandai kiprah besarnya, sekaligus menjadi pengingat bahwa sastra modern Lampung memiliki akar yang lebih tua dan lebih dalam.
Generasi 1980-an sendiri sesungguhnya lebih ramai dari yang hadir malam itu. Nama-nama seperti Iwan Nurdaya Djafar, Dadang Ruhiyat, Sugandi Putra, Djuhardi Basri, Sutarman Sutar, Christian Heru, hingga Hasanuddin ZA menjadi bagian dari lanskap yang membentuk wajah sastra Lampung pada masanya—meski tidak semuanya lagi aktif atau hadir dalam pertemuan tersebut.
Bergeser ke generasi 1990-an, suara sastra Lampung diwakili oleh Iswadi Pratama, Ahman Yulden Erwin, Ari Pahala Hutabarat, dan Udo Z. Karzi. Generasi ini tumbuh dalam transisi—di antara idealisme lama dan realitas baru—dengan bahasa yang lebih cair dan tema yang makin beragam. Mereka menjadi jembatan penting antara generasi pendahulu dan yang datang kemudian.
Sementara itu, generasi 2000-an membawa energi yang lebih eksperimental. Inggit Putria Marga, Iskandar GB, dan Fitriyani hadir sebagai representasi angkatan ini. Di luar mereka, ada pula nama-nama yang menonjol dalam lanskap sastra Lampung era ini, seperti Jimmy Maruly Alfian, Dina Oktaviani, Agit Yogi Subandi, Lupita Lukman, dan Dyah Merta—generasi yang mulai berhadapan langsung dengan dunia digital, ruang publik baru, dan perubahan cara baca.
Malam itu juga memperkenalkan wajah generasi 2010-an. Yulizar Fadli, yang untuk pertama kalinya tampil di forum seperti ini, membacakan cerpen berjudul “Sapi”. Sebuah karya yang sederhana namun menjanjikan—menandai hadirnya generasi baru yang masih mencari bentuk, tetapi sudah berani berbicara.
Silaturahmi itu pada akhirnya bukan tentang siapa paling senior atau paling muda. Ia adalah peta ingatan—tentang bagaimana sastra Lampung bergerak dari satu generasi ke generasi berikutnya, dengan jeda, sambung, dan kadang terputus.
Di ruang pertemuan itulah kita belajar bahwa sastra tidak hidup dari satu zaman saja. Ia bertahan karena diwariskan, diperdebatkan, dan terus dihidupkan oleh generasi yang datang dan pergi. Dan Lampung, dengan segala dinamika sastrawannya, masih terus menulis dirinya sendiri.
