BANDAR LAMPUNG – Di bawah naungan rimbun pepohonan Wira Garden, aroma tanah lada seolah memanggil pulang para penggiat seni Lampung untuk berkumpul dalam sebuah perhelatan bertajuk Art Camp 2024. Gelaran yang berlangsung selama tiga hari (24-26 September 2024) ini bukan sekadar kemah biasa; ia adalah sebuah ruang kontemplasi sekaligus perayaan atas tiga dekade perjalanan estetik di Sang Bumi Ruwa Jurai.
Mengusung tema besar “Merayakan Tanah Lada, Menjalin Simpul Seni Budaya”, acara ini menjadi kado bagi hari jadi Dewan Kesenian Lampung (DKL) yang ke-31. Di sela-sela gemericik air dan desir angin Teluk Betung, para seniman melebur dalam harmoni, merajut kembali simpul-simpul kreativitas yang selama ini tersebar di berbagai sudut komite.
Sebuah Penutup dan Harapan
Bagi Profesor Dr. Satria Bangsawan, S.E., M.Si., Ketua Umum DKL, Art Camp tahun ini memiliki makna sentimental yang mendalam. Di hadapan para partisipan, ia merefleksikan perjalanan panjang kepengurusan periode 2019-2024 yang kini memasuki masa purnabakti.
“Lima tahun terakhir adalah perjalanan kolektif tujuh komite—dari Tari hingga Sastra—dalam menghidupkan ekosistem seni di Lampung,” ungkapnya. Beliau menegaskan bahwa dukungan terhadap karya seni bukan hanya soal panggung, melainkan upaya menyemai benih seniman muda agar tumbuh menjadi figur yang unggul dan produktif di masa depan.
Dari Tradisi hingga Literasi Digital
Daya tarik utama Art Camp 2024 terletak pada keberaniannya mengawinkan nilai-nilai arkais dengan kebutuhan zaman. Komite Tradisi, misalnya, berhasil menghidupkan suasana melalui pementasan musik tradisional bertajuk “Tikhamku di Serdam”.
Suara Serdam yang melankolis bersahutan dengan Sastra Lisan Lampung—Ringget dan Wawancan—seolah membawa penonton kembali ke akar identitas Lampung yang paling dalam. Keheningan hutan Wira Garden mendadak berubah menjadi panggung teatrikal yang magis saat tutur-tutur lisan itu dilantunkan.
Namun, DKL menyadari bahwa seni tak boleh terpenjara di masa lalu. Melalui workshop bersama Rudi David dari Metro TV, para peserta diajak menyelami dunia digital. Di sini, media sosial dipandang bukan sekadar alat komunikasi, melainkan kanvas baru bagi seniman untuk menyebarkan karyanya lebih luas.
Simpul yang Tak Terputus
Puncak dari kemah seni ini adalah pementasan kolaborasi lintas komite. Batas-batas antara gerak, suara, dan rupa melebur menjadi satu kesatuan. Kolaborasi ini menjadi simbol bahwa meski kepengurusan akan berganti, semangat untuk “Menjalin Simpul Seni Budaya” di Tanah Lada tidak boleh terputus.
Art Camp 2024 akhirnya bukan sekadar seremoni ulang tahun, melainkan sebuah pernyataan sikap: bahwa seni Lampung akan terus berdenyut, sehangat lada dan sekuat tradisi yang menjaganya.
