Lampung Selatan — Setelah berlangsung selama enam hari, Srawung Seni Sawah V resmi mencapai puncaknya pada Sabtu, 11 Januari 2026, di hamparan sawah Desa Triharjo, Merbau Mataram, Lampung Selatan. Puncak acara ini menjadi penanda berakhirnya perhelatan seni rakyat yang memadukan seni pertunjukan, tradisi, dan kesadaran ekologis dalam satu ruang hidup: sawah.
Puncak Srawung Seni Sawah dihadiri oleh perwakilan Pemerintah Provinsi Lampung dan Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan. Wakil Gubernur Lampung yang berhalangan hadir diwakili oleh Thomas Amirico, S.STP., MH. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung. Sementara itu, Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama diwakili oleh I Nyoman Setiawan, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lampung Selatan.
Kehadiran para pemangku kebijakan ini menjadi pengakuan penting atas konsistensi Srawung Seni Sawah sebagai gerakan kebudayaan berbasis masyarakat yang telah memasuki penyelenggaraan kelimanya.
Sawah sebagai Panggung dan Ruang Makna
Berbeda dari festival pada umumnya, Srawung Seni Sawah menempatkan sawah bukan sekadar latar, melainkan sebagai subjek utama perayaan. Sejak dibuka pada 6 Januari 2026, rangkaian kegiatan berlangsung menyatu dengan kehidupan warga—menghadirkan seni tari, musik, sastra, ritual, permainan tradisional anak, hingga pasar rakyat.
Pada puncak acara, seluruh seniman yang terlibat tampil bergantian dalam satu perayaan kolektif. Tidak ada sekat disiplin, tidak ada panggung eksklusif. Seni hadir membumi, bersentuhan langsung dengan lumpur, padi, dan tubuh-tubuh yang bergerak bersama.
Seni, Syukur, dan Ingatan Lingkungan
Ketua Pelaksana Agus Gunawan menegaskan bahwa sejak awal Srawung Seni Sawah digagas bukan sebagai agenda hiburan, melainkan ruang kesadaran bersama.
“Srawung Seni Sawah adalah bentuk syukur atas sawah yang memberi kita kehidupan. Lewat seni, kami ingin mengingatkan kembali pentingnya menjaga lingkungan dan relasi manusia dengan alam,” ujarnya.
Menurut Agus, keberlanjutan acara ini selama lima kali penyelenggaraan menunjukkan bahwa seni rakyat masih memiliki daya hidup kuat ketika tumbuh dari komunitas dan kebutuhan bersama.
Dukungan Pemerintah dan Masyarakat
Dalam sambutannya, perwakilan Pemerintah Provinsi Lampung dan Lampung Selatan menyampaikan apresiasi atas konsistensi Srawung Seni Sawah sebagai kegiatan kebudayaan yang berangkat dari akar masyarakat. Kegiatan ini dinilai sejalan dengan upaya pemajuan kebudayaan, penguatan identitas lokal, sekaligus pengembangan pariwisata berbasis budaya dan lingkungan.
Namun kekuatan utama Srawung Seni Sawah tetap terletak pada partisipasi warga. Masyarakat Desa Triharjo terlibat aktif sejak proses persiapan hingga pelaksanaan, menjadikan acara ini bukan milik segelintir orang, melainkan perayaan bersama.
Merawat Tradisi, Menjaga Masa Depan
Berakhirnya Srawung Seni Sawah V bukanlah penutup, melainkan jeda untuk menanam kembali ingatan dan kesadaran. Di tengah laju alih fungsi lahan dan perubahan ekologis, sawah kembali ditegaskan sebagai ruang budaya, ruang hidup, dan ruang refleksi.
Melalui seni yang hadir secara jujur dan membumi, Srawung Seni Sawah memperlihatkan bahwa kebudayaan tidak selalu lahir dari gedung megah, melainkan dari tanah yang diolah, dijaga, dan disyukuri bersama.
