Bandar Lampung — Seni rupa kembali mengambil peran sosialnya. Melalui pameran bertajuk “Dialog untuk Sumatra”, UPTD Taman Budaya Lampung bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung menghadirkan ruang perjumpaan antara seni, empati, dan kepedulian kemanusiaan. Pameran ini berlangsung mulai 22 Desember 2025 hingga 1 Januari 2026, menampilkan sekitar 60 karya seni rupa dari seniman Lampung.
Pameran ini lahir sebagai respons atas berbagai bencana yang melanda wilayah Sumatra, seperti Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Namun alih-alih menampilkan kesedihan secara literal, karya-karya yang dipamerkan membuka ruang dialog—antara perupa, penikmat seni, dan realitas sosial yang sedang dihadapi.
Seni, Donasi, dan Gagasan Semi-Bazar
Salah satu figur sentral dalam pameran ini adalah David, yang berperan sebagai kurator sekaligus seniman peserta. Ia merancang “Dialog untuk Sumatra” dengan konsep semi-bazar, di mana seni tidak hanya dipamerkan, tetapi juga menjadi sarana aksi sosial.
“Lima puluh persen hasil penjualan karya dan tiket masuk dialokasikan untuk donasi bencana, dan lima puluh persen untuk pelukis,” ujar David. Skema ini dimaksudkan agar seniman tetap mendapatkan ruang apresiasi, sekaligus berkontribusi nyata bagi korban bencana.
Pendekatan tersebut menjadikan pameran ini bukan sekadar agenda seni, melainkan juga gerakan solidaritas yang melibatkan seniman, kolektor, dan masyarakat umum.
Tanah, Luka, dan Empati
Sebagai seniman, David turut mempresentasikan karyanya berjudul “Lulu Lantah”, sebuah lukisan berukuran 2 x 1,25 meter yang menggunakan media kanvas dan bubuk bata. Karya ini berangkat dari empati personal terhadap para korban bencana di Sumatra.
“Saya ingin semua bahan berasal dari tanah, karena tanah adalah sumber hidup,” ungkapnya. Proses penciptaan karya tersebut berlangsung singkat namun intens—tiga hari perenungan ide dan satu malam persiapan material sebelum pameran dibuka.
Melalui medium tanah, karya ini memaknai bencana bukan hanya sebagai kehancuran, tetapi juga sebagai luka ekologis dan kemanusiaan yang menyentuh akar kehidupan.
Ragam Aliran, Ragam Tafsir
Seniman Pulung Swandaru menyebut bahwa pameran ini menghadirkan keberagaman pendekatan visual, mulai dari realisme, ekspresif, hingga abstrak. Sebagian karya tampil komunikatif dan dekoratif, sementara sebagian lainnya menantang penikmatnya untuk berhenti sejenak dan berpikir lebih dalam.
“Banyak karya yang bisa langsung dinikmati secara visual, tapi ada juga yang mengajak pengunjung berdialog dengan gagasan,” ujar Pulung.
Sebanyak 50 pelukis terlibat dalam pameran ini, berasal dari berbagai wilayah di Lampung seperti Bandar Lampung, Metro, Tanggamus, hingga Lampung Selatan. David menyusun alur penempatan karya dengan mempertimbangkan dinamika ruang dan pengalaman pengunjung, tanpa membatasi seluruh karya pada tema bencana semata.
“Kami juga menyesuaikan dengan minat pengunjung dan kolektor, agar dialog yang terjadi tetap hidup,” jelasnya.
Seni sebagai Gerakan Bersama
Pameran ini mendapat dukungan dari pemerintah daerah dengan penyediaan gedung pameran secara gratis. Sementara kebutuhan operasional ditopang secara gotong royong melalui iuran peserta dan tiket masuk sebesar Rp10.000, yang sudah termasuk stiker dan gantungan kunci.
Dana yang terkumpul rencananya akan disalurkan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung atau pemerintah daerah setempat, sebagai jalur resmi pendistribusian bantuan.
Melalui “Dialog untuk Sumatra”, seni rupa ditempatkan sebagai medium kepedulian—menghubungkan rasa, gagasan, dan tindakan nyata. Para seniman berharap pameran ini dapat menumbuhkan empati publik sekaligus memperluas apresiasi terhadap seni rupa Lampung.
“Kami berharap masyarakat datang, melihat karya, dan mengoleksinya sebagai bagian dari donasi dan solidaritas,” tutup David.
